Membaca kisah Simon, saya merasa rapuh, gagal, dan tidak pantas. Lalu ingin menjauhkan diri dari Tuhan. Terkadang saya juga mengandalkan kekuatan duniawi saya. Namun hal itu justru tak mendapatkan apa-apa.
Sebagai seorang guru terkadang saya merasa tak banyak memiliki kelebihan. Saya bukan siapa-siapa. Saat sekolah memberikan aneka tugas kepada saya, saya ragu. Apakah saya mampu melaksanakannya. Saya mencoba menolak tugas-tugas tersebut. karena saya merasa rapuh dan tidak pantas. Tetapi sekolah tetap saja mempercayakan tugas itu kepada saya.
Kemudian saya berpasrah diri kepada Tuhan."Tuhan, saya tidak bisa apa-apa, tapi pakailah saya sebagai alat-Mu." doa saya. Hari ini saya diberi peneguhan oleh kisah Simon. Berkat daya penguatan Yesus, api gairah hidup Simon berkobar kembali. Keinginan awalnya untuk menjauhkan diri diubah menjadi kehendak kuat untuk menyerahkan diri kepada Yesus.
Kini saya yakin dan menyerahkan diri seutuhnya dan membiarkan Roh Kristus merasuki seluruh pribadi saya. Saya tidak perlu lagi pesimis terhadap kerapuhan dan kelemahan diri saya. Sebab saya yakinyang diam dan bekerja dalam diri saya adalah Roh Kristus sendiri.
Rabu, 23 September 2015
Sabtu, 19 September 2015
Menjadi Guru Imajinatif dan Kreatif
Membaca buku Sang Guru sang Peziarah karya A. Mintara Suryanta, S. J dan Yulia Srihartini, S. Pd. M. H. memang sangat mengesankan. Ketika membaca buku tersebut saya langsung melihat ke diri saya sendiri. Dan muncul pertanyaan, “Sudahkah saya menjadi guru seperti yang mereka tuliskan dalam buku tersebut?”
Saya sependapat dengan yang disampaikan oleh Alis Windu Prasetyo, SJ, moderator SMA Gozanga, Jakarta, bahwa “Buku Sang Guru sang Peziarah merupakan buku reflektif dari seorang yang sadar akan tugas dan kewajibannya sebagai guru. Buku ini memang perlu dibaca dan ditimba dengan hati. Pembaca tidak hanya diajak untuk memahami tetapi juga diajak untuk introspeksi, merefleksikan dan bahkan mengkonkritkan, bahkan mengkontekstualkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian juga dengan saya. Membaca buku ini kembali menyadarkan saya akan tugas dan panggilan saya sebagai seorang guru. Saya mengintrospeksi dan berefleksi, bagaimanakah saya menjalani profesi saya selama ini. Dari sekian banyak tulisan dalam buku tersebut, saya paling terkesan dengan bagian yang berjudul I Have a Dream: Pribadi yang Imajinatif dan Kreatif. Mengapa? Bagian ini di awali dengan sebuah kutipan “ Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakan ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya dan diinjak orang.” (Matius 5: 13-14). Dalam bagian itu juga penulis menyampaikan “Dengan berbagai macam perumpamaan, Yesus mengajar para murid-Nya. Dengan menyentuh daya imajinasi, Yesus ingin membangkitkan dalam diri para murid suatu keterampilan kontemplasi dan kreatifitas (halaman 72)”. Menjadi garam berarti memberi rasa nyaman dan damai, memberi senyum dan kelegaan, atau menciptakan komunitas yang gembira, tanpa harus menonjol-nonjolkan diri agar diakui. Sedangkan menjadi terang berarti memberi inspirasi dan motivasi. Membaca tulisan tersebut, saya bertanya kepada diri saya. Sudahkah kamu menjadi guru garam dunia? Sudahkah kamu menjadi terang? Sudahkah kamu menjadi guru yang menyentuh daya imajinasi dan mampu membangkitkan dalam diri para siswa keterampilan kontemplasi dan kreativitas?
Lantas bagaimana memberi makan imajinasi dalam konteks pendidikan? Guru dapat mengembangkan imajinasi anak sehingga imajinasi mereka tumbuh sehat dan berkembang. Guru dapat membantu para murid terlibat aktif dalam mengembangkan daya imajinasinya dengan cara mencipta sesuatu atau mengerjakan sesuatu berdasarkan kreativitas mereka. Memang benar yang disampaikan penulis. Mendidik murid menjadi pribadi yang kaya imajinasi dan kreatif membutuhkan latihan dan keberanian untuk memasuki alam imajinasi dan alam kreativitas. Saya sebagai pribadi sungguh tertantang untuk menjadi pribadi yang imajinatif dan kreatif. Hal tersebut tentu tidah mudah, membutuhkan keberanian dan perjuangan yang tidaklah ringan.
Kita mungkin sudah tidak asing mendengar istilah berpikir di luar kotak(thinking out of the box). Saya yakin siapa pun bisa menjadi lebih kreatif dan dengan demikian lebih mampu memecahkan masalah-masalah, mengerjakan proyek-proyek unggulan dan secara keseluruhan menjadi pribadi yang lebih menarik. Saya juga yakin pikiran kreatif akan mengalir bebas selama mengerjakan tugas apa pun, ketika pikiran lebih bebas mengembara. Aktivitas yang tepat akan membuat pikiran terus dan terus berpikir. Bagaimana dengan imajinasi? Menutup mata dan membayangkan masa depan. “Ketika orang membayangkan diri mereka jauh ke masa depan, hal itu menyebabkan pikiran beralih ke cara berpikir global yang bisa sangat berguna ,” kata Schooler, Ph. D. seorang professor psikologi di UC Santa Barbara. Mimpikan (imajinasikan) masa depanyang jauh seperti lima tahun atau sepuluh tahun untuk hasil yang terbaik. Saya secara pribadi yakin dengan hal tersebut. Dengan membayangkan atau mengimajinasikan kehidupan saya lima atau sepuluh tahun ke depan saya dapat membuat dan mengatur strategi bagaimana supaya kehidupan saya lebih baik dari pada hari ini. Saya menjadi kreatif mencari cara untuk mewujudkan impian atau imajinasi saya. Tentu saja hal tersebut tak lepas dari campur tangan Tuhan.
Sebagai seorang pendidik, saya pun memiliki impian bagi anak didik saya. Saya menginginkan mereka mampu menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Saya pun mengajak para peserta didik untuk mempunyai imajinasi atau impian tentang masa depan mereka. Akan menjadi apa dan siapa mereka sepuluh tahun ke depan. Dengan imajinasi atau impian tersebut saya berharap mereka dapat berjuang keras untuk mewujudkan impian atau imajinasi mereka.
Suatu ketika ada seorang anak perempuan datang menemui saya. Magdalena Kusuma Wardani, gadis sederhana yang mempunyai imajinasi dan kreativitas luar biasa. Ia bercerita mengapa tertarik masuk SMA Fransiskus selepas SMP. Kebetulan memang SMP-nya bersebelahan dengan SMA Fransiskus. Dia bercerita bahwa ia sering mendengar melalui penggumuman maupun radio sekolah SMA bahwa SMA Fransiskus sering memenangi aneka lomba. Ia kemudian mempunyai imajinasi bahwa ia suatu saat akan ikut menjadi siswa SMA Fransiskus dan menjadi siswa yang berprestasi dalam berbagai lomba. Benar saja, akhirnya dia mendaftarkan diri menjadi salah satu siswa SMA tercinta ini. Ia pun ingin mewujudkan keinginannya. Dia tertarik untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Awalnya, dia ragu karena ia sama sekali tidak paham dengan karya tulis. Ia masih kelas sepuluh dan belum sama sekali mendapatkan materi menulis karya ilmiah. Tetapi selalu saya yakin kepadanya bahwa kamu mampu asalkan kamu mau.Kamu harus mampu bekerja keras dan harus berani untuk mewujudkan keinginanmu. Tak ada yang tak bisa dipelajari. Kalau kamu mau, kamu pasti bisa. Akhirnya dia mau mencoba. Dia belajar sungguh-sungguh untuk memahami penulisan karya ilmiah supaya ia mampu menulisnya.
Dalam menulis karya tulis sangat dibutuhkan imajinasi dan kreativitas yang luar biasa. Dengan berbekal keyakinan diri, kerja keras, dan kreativitas, serta imajinasinya, akhirnya dia mampu memenangi lomba tersebut. Awalnya dia menjadi juara 1 tingkat kota. Lalu, lomba dilanjutkan untuk mewakili kota dalam lomba tingkat provinsi. Di lomba tingkat provinsi ini, dia juga berhasil menjadi juara, meskipun juara 2. Tidak hanya sekali itu ia mengikuti lomba karya tulis. Berbekal pengalamannya di lomba yang pertama, dia selalu megikuti lomba-lomba karya tulis lain.Puji Tuhan, dia selalu mampu mempersembahkan yang terbaik bagi SMA ini.
Itulah daya kekuatan imajinasi dan kreativitas. Dengan berimajinasi seseorang akan mampu melakukan hal-hal yang mungkin di luar pemikirannya. Dengan memiliki imajinasi peserta didik akan lebih memiliki kreativitas dalam belajar. Saya yakinkan mereka bahwa untuk meraih impian mereka, mereka harus berjuang keras, harus melatih diri.
Ada ungkapan yang mengatakan sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Sebelum dipercaya untuk memegang tanggung jawab besar seseorang harus mampu dipercaya dalam mengerjakan tanggung jawab yang kecil. Hal-hal kecil yang mereka lakukan hari ini dengan baik akan membawa mereka ke hal-hal besar yang akan mereka lakukan sepuluh tahun yang akan datang. Kelak mereka harus bisa menjadi garam dan terang dunia.
Nilai-nilai yang dapat saya pelajari dari buku tersebut adalah sebagai berikut. 1. Dalam hidup ini kita harus bermanfaat bagi orang lain. 2. Sebagai pengikut Kristus kita harus berani berkurban memperjuangkan nilai-nilai luhur kehidupan. 3. Sebagai guru kita harus memiliki semangat memberikan suasanapenuh gairah sehingga daya imajinasi dan kreativitas anak didik berkembang. 4. Imajinasi dapat menggetarkan saraf jiwa untuk kemudianmenyulut api gairah hidup. 5. Kebanggaan seorang guru adalah pada saat melihat anak didiknya menjadi pribadi yang kreatif dan mampu menjadi garam dan terang dunia.
Demikian juga dengan saya. Membaca buku ini kembali menyadarkan saya akan tugas dan panggilan saya sebagai seorang guru. Saya mengintrospeksi dan berefleksi, bagaimanakah saya menjalani profesi saya selama ini. Dari sekian banyak tulisan dalam buku tersebut, saya paling terkesan dengan bagian yang berjudul I Have a Dream: Pribadi yang Imajinatif dan Kreatif. Mengapa? Bagian ini di awali dengan sebuah kutipan “ Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakan ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya dan diinjak orang.” (Matius 5: 13-14). Dalam bagian itu juga penulis menyampaikan “Dengan berbagai macam perumpamaan, Yesus mengajar para murid-Nya. Dengan menyentuh daya imajinasi, Yesus ingin membangkitkan dalam diri para murid suatu keterampilan kontemplasi dan kreatifitas (halaman 72)”. Menjadi garam berarti memberi rasa nyaman dan damai, memberi senyum dan kelegaan, atau menciptakan komunitas yang gembira, tanpa harus menonjol-nonjolkan diri agar diakui. Sedangkan menjadi terang berarti memberi inspirasi dan motivasi. Membaca tulisan tersebut, saya bertanya kepada diri saya. Sudahkah kamu menjadi guru garam dunia? Sudahkah kamu menjadi terang? Sudahkah kamu menjadi guru yang menyentuh daya imajinasi dan mampu membangkitkan dalam diri para siswa keterampilan kontemplasi dan kreativitas?
Lantas bagaimana memberi makan imajinasi dalam konteks pendidikan? Guru dapat mengembangkan imajinasi anak sehingga imajinasi mereka tumbuh sehat dan berkembang. Guru dapat membantu para murid terlibat aktif dalam mengembangkan daya imajinasinya dengan cara mencipta sesuatu atau mengerjakan sesuatu berdasarkan kreativitas mereka. Memang benar yang disampaikan penulis. Mendidik murid menjadi pribadi yang kaya imajinasi dan kreatif membutuhkan latihan dan keberanian untuk memasuki alam imajinasi dan alam kreativitas. Saya sebagai pribadi sungguh tertantang untuk menjadi pribadi yang imajinatif dan kreatif. Hal tersebut tentu tidah mudah, membutuhkan keberanian dan perjuangan yang tidaklah ringan.
Kita mungkin sudah tidak asing mendengar istilah berpikir di luar kotak(thinking out of the box). Saya yakin siapa pun bisa menjadi lebih kreatif dan dengan demikian lebih mampu memecahkan masalah-masalah, mengerjakan proyek-proyek unggulan dan secara keseluruhan menjadi pribadi yang lebih menarik. Saya juga yakin pikiran kreatif akan mengalir bebas selama mengerjakan tugas apa pun, ketika pikiran lebih bebas mengembara. Aktivitas yang tepat akan membuat pikiran terus dan terus berpikir. Bagaimana dengan imajinasi? Menutup mata dan membayangkan masa depan. “Ketika orang membayangkan diri mereka jauh ke masa depan, hal itu menyebabkan pikiran beralih ke cara berpikir global yang bisa sangat berguna ,” kata Schooler, Ph. D. seorang professor psikologi di UC Santa Barbara. Mimpikan (imajinasikan) masa depanyang jauh seperti lima tahun atau sepuluh tahun untuk hasil yang terbaik. Saya secara pribadi yakin dengan hal tersebut. Dengan membayangkan atau mengimajinasikan kehidupan saya lima atau sepuluh tahun ke depan saya dapat membuat dan mengatur strategi bagaimana supaya kehidupan saya lebih baik dari pada hari ini. Saya menjadi kreatif mencari cara untuk mewujudkan impian atau imajinasi saya. Tentu saja hal tersebut tak lepas dari campur tangan Tuhan.
Sebagai seorang pendidik, saya pun memiliki impian bagi anak didik saya. Saya menginginkan mereka mampu menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Saya pun mengajak para peserta didik untuk mempunyai imajinasi atau impian tentang masa depan mereka. Akan menjadi apa dan siapa mereka sepuluh tahun ke depan. Dengan imajinasi atau impian tersebut saya berharap mereka dapat berjuang keras untuk mewujudkan impian atau imajinasi mereka.
Suatu ketika ada seorang anak perempuan datang menemui saya. Magdalena Kusuma Wardani, gadis sederhana yang mempunyai imajinasi dan kreativitas luar biasa. Ia bercerita mengapa tertarik masuk SMA Fransiskus selepas SMP. Kebetulan memang SMP-nya bersebelahan dengan SMA Fransiskus. Dia bercerita bahwa ia sering mendengar melalui penggumuman maupun radio sekolah SMA bahwa SMA Fransiskus sering memenangi aneka lomba. Ia kemudian mempunyai imajinasi bahwa ia suatu saat akan ikut menjadi siswa SMA Fransiskus dan menjadi siswa yang berprestasi dalam berbagai lomba. Benar saja, akhirnya dia mendaftarkan diri menjadi salah satu siswa SMA tercinta ini. Ia pun ingin mewujudkan keinginannya. Dia tertarik untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah. Awalnya, dia ragu karena ia sama sekali tidak paham dengan karya tulis. Ia masih kelas sepuluh dan belum sama sekali mendapatkan materi menulis karya ilmiah. Tetapi selalu saya yakin kepadanya bahwa kamu mampu asalkan kamu mau.Kamu harus mampu bekerja keras dan harus berani untuk mewujudkan keinginanmu. Tak ada yang tak bisa dipelajari. Kalau kamu mau, kamu pasti bisa. Akhirnya dia mau mencoba. Dia belajar sungguh-sungguh untuk memahami penulisan karya ilmiah supaya ia mampu menulisnya.
Dalam menulis karya tulis sangat dibutuhkan imajinasi dan kreativitas yang luar biasa. Dengan berbekal keyakinan diri, kerja keras, dan kreativitas, serta imajinasinya, akhirnya dia mampu memenangi lomba tersebut. Awalnya dia menjadi juara 1 tingkat kota. Lalu, lomba dilanjutkan untuk mewakili kota dalam lomba tingkat provinsi. Di lomba tingkat provinsi ini, dia juga berhasil menjadi juara, meskipun juara 2. Tidak hanya sekali itu ia mengikuti lomba karya tulis. Berbekal pengalamannya di lomba yang pertama, dia selalu megikuti lomba-lomba karya tulis lain.Puji Tuhan, dia selalu mampu mempersembahkan yang terbaik bagi SMA ini.
Itulah daya kekuatan imajinasi dan kreativitas. Dengan berimajinasi seseorang akan mampu melakukan hal-hal yang mungkin di luar pemikirannya. Dengan memiliki imajinasi peserta didik akan lebih memiliki kreativitas dalam belajar. Saya yakinkan mereka bahwa untuk meraih impian mereka, mereka harus berjuang keras, harus melatih diri.
Ada ungkapan yang mengatakan sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil. Sebelum dipercaya untuk memegang tanggung jawab besar seseorang harus mampu dipercaya dalam mengerjakan tanggung jawab yang kecil. Hal-hal kecil yang mereka lakukan hari ini dengan baik akan membawa mereka ke hal-hal besar yang akan mereka lakukan sepuluh tahun yang akan datang. Kelak mereka harus bisa menjadi garam dan terang dunia.
Nilai-nilai yang dapat saya pelajari dari buku tersebut adalah sebagai berikut. 1. Dalam hidup ini kita harus bermanfaat bagi orang lain. 2. Sebagai pengikut Kristus kita harus berani berkurban memperjuangkan nilai-nilai luhur kehidupan. 3. Sebagai guru kita harus memiliki semangat memberikan suasanapenuh gairah sehingga daya imajinasi dan kreativitas anak didik berkembang. 4. Imajinasi dapat menggetarkan saraf jiwa untuk kemudianmenyulut api gairah hidup. 5. Kebanggaan seorang guru adalah pada saat melihat anak didiknya menjadi pribadi yang kreatif dan mampu menjadi garam dan terang dunia.
Langganan:
Komentar (Atom)